Perjalanan dimulai hari Minggu, 18 Oktober 2009 dari Kalibata, titik pemberangkatan awal, KM di speedometer Downtube menunjukkan angka 2263.0, pagi yang cerah untuk sebuah perjalanan yang panjang. Tujuan pertama menuju ke Bunderan HI. Di Bundaran HI para penyepedah ontel anggota Komunitas Ontel Batavia sudah berkumpul untuk selanjutnya menuju ke Gedung Joang 45 membahsa keberangkatan ke Solo dan turut melepas keberangkatan Fahmi Saimima & Heru Pramono, duo penyepedah yang akan melakukan ekspedisi dan kampain tentang “Kembali Bersepeda”.
Siang itu, waktu telah menunjukkan pkl. 09.10 dimana acara pelepasan yang sederhana tapi meriah dilakukan di Gedung Joang 45 Jl. Raya Menteng 41.
Kemeriahan pelepasan tersebut bagi kami sangat “memalukan”, karena perjalanan harus dilanjutkan dengan kereta api, padahal rekan2 KOBA sangat ingin mengantar hingga batas luar kota Jakarta. Dengan bersepeda kami menuju stasiun Gambir . Sekedar info saat masuk stasiun, pihak keamanan melarang kita untuk repacking di dalam lobi stasiun, melainkan bongkar pasang sepeda harus dilakukan di luar area stasiun. Tiket KA Cirebon Express keberangkatan jam 11.00 sudah kita pesan sebelumnya dan tempat duduk yang kita pesan adalah yang paling belakang (No. 16-17), ini karena bangku posisi belakang menyisakan space yang lumayan untuk menaruh barang2 bawaan yang cukup buanyak.
Kami turun di stasiun Brebes jam 16.05 (telat 45 menit), setelah rehat dan packing ulang.. kita menuju Masjid Agung Brebes untuk menunaikan sholat yang tertunda selama perjalanan, harusnya agenda kami di kota pertama ini akan bersilaturahmi dengan klub sepeda setempat, namun setelah kita telepon beberapa pengurus ternyata sedang ta’ziah ataas musibah salah satu anggota, karena suasana tidak mendukung, akhirnya kita melanjutkan langsung ke kota berikutnya, Tegal.
Sepenjang perjalanan, kami mencicipi kuliner khas diantaranya Telor asin Brebes yang bisa didapatkan di sepanjang jalur utama kota bribes, harga satu telur asin bervariasi mulai Rp.2000 hingga Rp.3000 tergantung oleh jenis dan rasanya, kemudian ketika memasuki kota Tegal, kami mampir di sebuah kuliner khas yang sangat terkenal, yaitu Kupat Blengong, Kupat Glabed khas Tegal dengan laup Daging Blengong (katanya hasil kawin antara bebek dan entog), letaknya sangat khas, di Jl. Nanas Seberang Rita Mall dan harus masuk kedalam jalan yang beraspal kurang lebih 1 km, tempatnya di tengah sawah, gerobak2 para pedagang kupat blengong akan menyambut secara ramah, sayang kami hadir disana saat malam hari, kalau pas sore hari.. suasana sayup angin pemantang sawah akan lebih kerasa.. Maknyus.. Kupat Blengong yang legendaries kita hantam tanpa sisa, Rp.28.000 kami keluarkan untuk dua porsi kupat dan 8 potong blengong plus teh manis khas tegal.
Hari sudah menjelang malam ketika kami memasuki Kota Tegal , kami harus singgah untuk istirahat, Sekretariat Muhamadiyah ranting Slerok sudah siap menyambut kami, kebetulan masih famili dengan Fahmi, sambil recovery, mandi dan repacking.. kami atur strategi untuk esok hari, kami memilih untuk kampain disekolah.
Malam itu kita cari info untuk bisa mengunjungi sekolah mana yang bisa menerima kami, akhirnya melalui salah satu sahabat guru yang ada, kita memilih SMPN 15 (Green School) dan SMUN 1 Tegal, plus tilpun ke rekan2 wartawan untuk bisa meliput agenda ini…
Jelang malam, ternyata perut ini masih gatal untuk kulineran , akhirnya kembali kita bersemangat untuk memburu kuliner Sauto Tegal yang kesohor itu, jarak 3 KM dari pusat kota kita lalui, menuju Jl. Raya Talang – Tegal, restoran sederhana “Sedap Malam” yang menyajikan Sauto Tegal (makanan ini beda dengan jenis soto lainnya, berbahan dasar tauge kecil, tulang lunak, daun bawang, dipadukan bumbu Tauco plus lauk pilihan ayam, daging, babat maupun campur.. plus nasi! Disajikan dengan mangkuk kecil yang sangat khas)… Mmmyyyyummi… setelah genjot 3 Km menuju TKP, langsung dua porsi Sauto Tegal tanpa ba bi bu lagi kami Huajjjaarr!! Rp. 20.000 per dua porsi include air jeruk manis yang hangat. Sepulang dari nyoto kita juga mampir tuk beli jajanan khas Tahu Aci Murni, tahu segitiga dengan paduan sagu digoreng dengan bumbu khusus seharga Rp. 1000 dapet tiga. Lupa deh, foto sauto n tahu aci nya ada apa nggak ya ? tapi emang enak banget tuh kedua makanan khas Tegal itu…nggak tau nih di Jakarta ada apa ngga ya cabangnya…

















Asyik perjalanannya, nikmat kulinernya, mantappp
Sautonya bikin kangen….apalagi dingin2 beginih…
jadi pingin nih….
bendera kosti,tapi pit anyar.. ya opo rek? boten-boten wae..
Untuk sepeda tua, ayo buktikan…
waw..perjalanan yg seru..
dulu pengen gazelle tapi ga jadi. hehehe
sluuuuuuuuuuuuuuurrrppp
aduh mas pengennnnnn ikuttttttttt