
Muchzin (60) saat bersepeda di Jalan Purwodadi-Semarang pada pertengahan Mei lalu. Setiap hari Muchzin menempuh jarak sekitar 40 kilometer pergi-pulang ke tempat kerjanya di Kota Semarang dari rumahnya di Demak. (KOMPAS/Ahmad Arif)
”Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia menjebut namanja. ’Marhaen’. Marhaen adalah nama jang biasa seperti Smith dan Jones. Di saat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu!”
Semendjak itu kunamakan rakjatku rakjat Marhaen. Selandjutnja di hari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah pengertianku jang baru. Aku memperlantjarnja. Aku mempersiapkan kata-kataku dengan hati-hati. Dan malamnja aku memberikan indoktrinasi mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku. Petani-petani kita mengusahakan bidang tanah jang sangat ketjil sekali.”
Itulah kata-kata Soekarno dalam buku Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia yang ditulis Cyndi Adams. Di kala suntuk, Soekarno rupanya bersepeda. Tak heran, foto Soekarno bersepeda demikian populer di kalangan pencinta ontel.
Dan, ilham menggenangi pedalaman kepala Soekarno kala ia duduk di atas sadel sepeda. Sepeda pula yang mempertemukan dia dengan Marhaen, yang kemudian memberi pemahaman baru tentang derita rakyat.
Akankah pejabat negeri ini memahami derita rakyat sebagaimana Soekarno jika mereka setiap melintas di jalan mengendarai mobil-mobil mewah dengan pengawalan ketat?
Zaman memang berubah. Pada era Soekarno setidaknya petani masih punya secuil lahan. Kini, banyak petani sama sekali tak punya lahan garapan. Bedanya lagi, jika dulu yang mampu naik sepeda adalah priayi dan kaum berpunya, kini pesepeda kebanyakan kaum marhaen, atau setidaknya yang dianggap miskin.
Marhaen masa kini
Kami menemui sosok lain ”Marhaen” itu di Jalan Raya Purwodadi-Semarang. Hampir pukul 18.00 saat Muchzin (60) menembus keramaian jalan dengan sepeda tua. Hujan yang mengguyur petang itu tak menghentikan kayuhannya. Jarak sekitar 20 kilometer dari tempat kerja di Semarang ke rumahnya di Sidorejo, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ditempuh selama 45 menit.
Sudah 35 tahun tukang kayu itu mengayuh sepeda, meretas jalan yang sama. Ia menjadi saksi tentang kota yang berubah, dan teman seperjalanannya yang sudah beralih menggunakan sepeda motor.
Hingga tahun 1990-an, kata Muchzin, masih ramai rombongan pesepeda dari kampungnya ke Semarang. Namun, kini, pekerja bersepeda bisa dihitung dengan jari. ”Kebanyakan sudah naik sepeda motor,” kata lelaki beranak enam dan memiliki dua orang cucu ini.
Muchzin tetap bersepeda. Ia enggan mengambil sepeda motor kreditan, sebagaimana teman-temannya. ”Enggak sanggup. Makan apa anak-anak kalau harus bayar cicilan. Kerja sehari hanya dapat Rp 30.000, kadang juga enggak ada kerjaan,” kata dia.
Berbeda dengan pergerakan roda sepedanya yang nyaris tak berhenti, hidup Muchzin justru nyaris mandek. Selain sepeda tua dan rumah bambu warisan mertua, tidak ada yang berubah dari hidupnya. Sepedanya juga tetap sama, merek Raleigh. Sepeda itu dibeli seharga Rp 35.000 pada tahun 1971, dari hasil menjual dua kambing dan utang koperasi desa Rp 15.000. ”Kalau sekarang mungkin harganya Rp 350.000,” katanya.
Sepeda itu pernah ditawar orang Rp 200.000. Namun, Muchzin tak menjual sepedanya. ”Ini sepeda kenangan, satu-satunya modal kerja saya. Saya tak punya sawah atau ternak. Saya juga masih ingat betapa susah membeli sepeda ini. Dulu, tiap Rabu haru bayar cicilan utang ke koperasi,” kata dia.
Terpaksa bersepeda
Di tengah arus deras modernisasi alat transportasi, masih banyak orang seperti Muchzin yang terpaksa bersepeda. Bagi mereka, sepeda tak hanya sebagai alat transportasi, tetapi sudah menjadi modal dasar menghidupi keluarga.
Di jalur Sragen-Ngawi, Sugianto (55) terpaksa menjadikan sepeda sebagai penyambung hidup. Tiap hari, ia harus mengayuh sepeda puluhan kilometer dengan beban kayu bakar lebih dari satu kuintal.
Lelaki dari Dusun Gelung, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu menjalani profesinya sejak 15 tahun silam. Setiap pukul 05.00, ia harus bergegas mengayuh sepeda ontel menuju hutan jati Ngawi. Dia mesti mengorek sisa akar jati dan mengumpulkan ranting. Baru pukul 12.00 dia keluar dari hutan dan menyusuri jalan untuk menawarkan kayu bakar.
Selain mencari kayu bakar, pada musim tanam padi Sugianto juga menjadi buruh tani. ”Saya tak punya sawah atau ladang. Hanya bisa memburuh atau cari kayu,” katanya.
Tahun 1980-an, Sugianto merantau ke Jakarta, bekerja sebagai sopir di perusahaan rokok. Sepuluh tahun tanpa kemajuan, dia pulang kampung dengan rasa kalah.
Kini, dari tiap hari kerja kerasnya, Sugianto paling banyak hanya mendapat penghasilan Rp 30.000. Uang itu hanya bisa untuk makan dan biaya sekolah tiga anaknya. ”Tiap hari kerja hasilnya habis untuk makan. Nunggu anak besar, belum tentu bisa sekolah sampai tinggi. Lulus sekolah pun belum tentu dapat kerja yang baik,” katanya.
Rasa putus asa Sugianto menebal. Anak sulungnya yang bekerja sebagai pelayan warung di Jakarta tak bisa diharapkan. ”Ia hanya dibayar Rp 20.000 per hari. Untuk hidup sendiri pasti susah, apalagi untuk kirim uang ke desa. Nanti, paling-paling ia akan pulang, mungkin ikut cari kayu bakar,” ujarnya.
Melihat daya Muchzin dan Sugianto untuk hidup, segera saja mengingatkan kepada Soekarno dan Marhaen. ”Sementara mendajung sepeda tanpa tudjuan aku sampai di bagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian jang padat dimana orang dapat menjaksikan para petani mengerdjakan sawahnja jang ketjil….” kata Soekarno.
Ketika sawah yang sempit itu menghilang, maka dari atas sadel sepeda perjuangan hidup itu mereka definisikan kembali. (Amir Sodikin)
sumber : kompas.com














Mudah-mudahan besok pejabat kita ada yang seperti Soekarno dulu dan marhaennya…untuk pak Muchzin dan pak Sugianto tetap sabar dan terus kayuh sepedanya…
semangat,jiwa,prinsip utk hidup, MERDEKA!!!
Inget waktu kecil dulu…waktu SMP harus ngontel dari rumah kesekolah sejauh 30 KM pulang pergi…..kalau anak sekarang kemana2 pakai motor….tapi itu akan menjadi pengalaman dan kenangan yg tidak akan terlupakan
naik sepeda sudah menjadi kegemaranku dari kecil tuh.
krn perubahan jaman dan situasi , motor atau “gerobag bermesin” menjadi alternatif ” tunggangan setelah berolah raga bersepeda.
buat marhaen jaman sekarang, mesti juga harus mengambil “hikmah” keterkaitannya dg sepeda, yg pasti dg bersepeda, akan terasa sehat jasmani dan rohani.
teruskan bersepeda karena bersepeda sangat sangat MIGUNANI……demikian ngendikane den bagus PODJOK…
mangaten to den?
Sebuah benda seperti sepeda motor sebenarnya tak selalu mampu mengukur hakikat kekayaan seseorang. Semoga Pak Muchzin dan para ‘marhaen’ selalu diberi kesehatan sebagai bekal menjalankan darmabakti pada kehidupan. Sebab, alangkah berharganya kesehatan. Banyak orang yang sepintas mampu hidup berkecukupan (punya motor, bahkan mobil), tetapi, begitu penyakit datang, ia harus hidup di bawah garis kemiskinan.
Kita berusaha dan berdoa agar senantiasa diberi kesehatan, kesejahteraan, serta hangatnya keluarga dan persahabatan. Usahlah mengukur kekayaan diri dari harta benda yang kita punyai. Selebihnya, berbesar hati adalah salah satu kekayaan yang bisa kita miliki. Jika kita hayati, betapa dunia onthel ini mampu membuat hidup jadi seindah ini…
Tetap semangat, wahai sahabat!
Sebagy generasi solidarits transportasi klassk,artikelny membwt ht terharu,karn d kota kami,mash banyx sy temukn,bpk2,kakek2,tiap pg mengayuh sepdany untk menyambung hidp keluargny,hampr tiap berangkt kerj kt selalu bareng,ga tega ngeliatny,setua merka,mash hars menghidupi keluarg,tp,merkalh inspiratr sy,hidup adlh kayuhn,keats n kebwah
Matur nuwun sanget mas amir tulisannya.Melihat Kang Muhsin dan Kang Sugianto adalah potret diri indonesia,potret diri “marhaen,wong cilik” potret ketekunan-ketabahan hidup.Mungkin pemimpin2 bangsa saat ini perlu menghargai “kerja yang sedemikian keras” wong2 cilik tadi.Suatu saat nanti jika saya bertemu mereka berdua,ku kan sampaikan salam “maju terus pantang mundur” .Jadilah Matahari ditengah sumpeknya dunia carut-marut Indinesia kita Kang.Insya Allah Tuhan meridhoi,Amiin
maka “mengayuh” memberi kita kesempatan
untuk melihat dan menyapa…
bukannya malah mempertebal tembok kesombongan
dengan menghargai “sang pengayuh”
hanya dari merk sepeda “yang dikayuh”nya
Menariknya, selalu ada dualisme yang melekat pada setiap wacana. Kemarin, karena ‘cuma’ punya sepeda onthel tua bisa membuat seseorang minder. Sekarang, karena ‘sudah’ punya sepeda onthel, seseorang bisa berbangga, bergabung dalam komunitas, punya misi yang jelas.
Saat melintasi jalan raya, kadang kami masih merasakan tatapan aneh (mungkin juga sebel) para pengendara kendaraan bermotor karena kami tak mampu mengikuti kecepatan seperti mereka inginkan. Tapi di Jogja, orang dilatih untuk menghargai kami para pesepeda. Di setiap traffic light mulai dibuatkan ruang tunggu khusus sepeda yang letaknya justru paling depan. Mereka sekarang harus antre menunggu kami jalan duluan.
Dalam konteks kesadaran lingkungan, saat ini onthelis mendapat sorotan sebagai orang-orang maju yang mendahului kesadaran zaman. Tetapi, di dalam penghormatannya itu, acara yang disuguhkan bagi onthelist masih cenderung yang vulgar-vulgar, yang ‘sekiranya’ mewakili selera rendah kaum bawah.
Hidup selalu butuh keseimbangan….
Setuju,,,,,,,,,,,,,hidup memang harus seimbang.
Antara rutinitas ngontel, dengan keluarga ,,ehehhe
Semangat hidup yg hebat ,yg nrimo tidak ngoyo
walaupun sekarang dgn uang 500 ribu sudah ,
pulang bawa motor baru,tapi dgn bersepeda tua
lebih bikin sehat,ayem(pikiran tenang,tidak koyok an
kalo ndak bisa bayar cicilan motor)&mengurangi
pemanasan global.perlu diikuti! oke.suwun
walaupun ngontel…setidak2nya mereka bukan koruptor dan pemakan uang rakyat, yg jelas mereka lebih punya harga diri, dari pada naek BMW tapi hasil korup dan gak peduli dgn orang miskin….mantab tulisannya salut…
Pada hakekatnya, bersepeda adalah menyehatkan jasmani…contoh dlm tulisan diatas pak Muchsin sdh 35 th ngontel kerja pergi pulang sampai usia beliau skrg sdh 60 th.
jadi..nggak usah minder dah bagi penyepedah jaman skrg.
kami bersepeda adalah suatu kebutuhan (pengisi dahaga jasmani dan rohani) tanpa dilatar belakangi kepemilikan kendaraan bermotor yg lain.dg bersepeda , bisa bertegur sapa dg kehidupan disekitar kita, hablum mina nas yg ihlas……..dg bersepeda bisa menjadi orang yg prasojo yg tidak dipaksakan…..selamat yo pak…nikmati kebahagiaan hidup dg prasojo dan ihlas….nuwun
karena keterpaksaan lah yg membuat mereka tetap bersepeda……tetap semangat…buat marhaen2 yg lain…