GAZELLE MANTEN

Gazelle Heeren 999362 (1954) ‘‘manten’

Hampir semua pedagang sepeda kuno di pasar sepeda Pugeran dan dekat Tamansiswa Jogja menyarankan untuk mencari yang merek Gazelle saja ketika awal aku mencari sepeda kuno tahun 2000an dulu. Tahun segitu belum banyak penggemar sepeda kuno, namun ironisnya tidak banyak juga sepeda kuno yang nampak di pasar sepeda. Dari semua Gazelle yang kulihat di pasar sepeda tak ada yang cocok. Baik dari harga, ataupun kondisi dan terlebih ukuran. Umumnya sudah gado-gado atau jika asli harganya sangat tinggi. Alasanku mencari Gazelle adalah beberapa varian sepeda koleksiku kurang terlihat gagah karena ukuran yang nggak sesuai dengan postur tubuhku. Tiga bulan berlalu sia-sia tanpa hasil apapun, hanya membuang uang transport keliling Jawa Timur, DIY, Jateng dan kecurigaan boss karena seringnya aku ijin luar kota.

Tahun baru 2002 hampir tiba ketika kujejakkan kaki di terminal Magelang sore setelah hampir 9 jam naik bus Eka dari Surabaya. Saat itu hari Sabtu. Aku menunggu bus yang akan membawaku ke Purworejo untuk liburan akhir tahun, di mana kakekku tinggal di Sibak. Seorang tua mendekatiku dan mengajakku berbicara. Ia seorang pedagang pohon jeruk yang pulang dari mengantar barang dagangan di Grabag. Setelah ngobrol ngalor ngidul dan berbagi rokok, aku menceritakan tujuanku ke Purworejo. Mencari sepeda Gazelle ukuran 24. Dia mengatakan kalau tetangganya seorang haji yang punya pondok pesantren di desa Bener, Purworejo mempunyai sepeda Gazelle ukuran tinggi yang akan dijual. Diceritakannya lagi bahwa sepeda itu akan dijual karena membutuhkan dana. Seketika hatiku berbinar, tanpa berfikir panjang lagi, aku terima tawaran pak tua itu untuk mengikutinya pulang ke desa Bener. Aku membayarinya naik angkot menuju ke desa itu yang berjarak 20 km dari Magelang.

Sesampainya di pesantren desa Bener ternyata pak haji sedang istirahat siang, dan tak ada seorangpun yang
berani membangunkan. Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya kami ketemu pak haji. Singkat cerita sepeda Gazelle itu sudah laku dibeli seorang guru yang tinggal di Kutoarjo. Yah…..sedih dan kecewa sekali
rasanya. Dengan diiringi perasaan menyesal pak tua pedagang pohon jeruk itu aku pamit meneruskan
perjalanan ke Purworejo. Segera aku meloncat ke bus Kencana Jaya dari ujung gapura desa Bener. Entah
mengapa aku menyebut tujuanku pasar sepeda Kutoarjo pada kondektur yang menarik ongkos. Aku diberitahu kondektur bus bila pasar sepeda Kutoarjo buka hari Kamis dan Minggu. Akhirnya aku turun di Purworejo walaupun membayar ongkos bus sampai Kutoarjo.

Hari Minggu pagi kubulatkan tekad untuk mengunjungi pasar sepeda. Sengaja aku nggak bilang terus terang ke nenekku kalau aku akan ke pasar sepeda. Maklumlah biasanya orang tua suka tanya-tanya kemana-mana yang ujung-ujungnya pasti akan menghalangi niatku. Kakek dan nenekku tahu kalau sejak 1999 aku menggemari sepeda dan sudah punya beberapa. Mereka sudah menjulukiku macam-macam dan sudah menyuruhku menabung untuk kawin, untuk inilah, itulah, hahaha (waktu itu aku masih membujang). Sejam kemudian aku sudah nongkrong di pasar sepeda Kutoarjo yang pagi itu ramai banget. Bener kata kondektur bus Kencana Jaya kemarin. Pasar sepeda buka hanya Kamis dan Minggu. Aku keliling bolak-balik dari lapak ke lapak, dari stand ke stand. Tak ada satu Gazelle pun yang kuinginkan. Padahal sepele saja. Ukuran 24, pria, seri bebas, cat orisinil, dan enak dinaiki. Pengalaman hampir 3 tahun memburu sepeda kuno membuatku punya sedikit acuan kriteria tentang sepeda yang enak dinaiki. Akhirnya dengan kepala pusing karena belum sarapan, aku menuju ke warung gudeg di pinggir jalan keluar pasar sepeda.
Aku ‘mengamuk’ dengan satu setengah porsi gudeg komplit, tiga gelas es teh. Selesai makan sambil
menghisap Gudang Garam kesukaanku (saat itu aku masih merokok) aku nongkrong di bawah pohon asam mengamati dagangan sepeda di lapak pinggir jalan. Hal yang lumrah di saat hari pasaran sepeda begini. Mereka menjual sepeda dan segala onderdilnya. Seorang pria setengah baya yang belakangan kuketahui bernama pak Suharto mengajakku bicara. Ia seorang blantik. Langsung aku jaga jarak. Pengalaman tertipu beberapa kali oleh blantik di kota lain membuatku ekstra waspada dengan makhluk bernama blantik.

Setelah ngomong ngalor ngidul khas orang yang punya mau, dia mengajakku ketempat kawannya di desa Bandung, Kutoarjo yang punya Gazelle ukuran 24 orisinil dan akan dijual. Tak terlalu optimis aku membonceng sepeda motornya menuju ketempat itu. Dia mengenalkanku dengan seorang guru sekolah kejuruan menengah atas bernama pak Sugiyono, yang seusia denganku. Pak guru yang sangat ramah dan santun ini mempunyai beberapa koleksi sepeda dan salah satunya akan dijual karena butuh uang. Aku masih tidak antusias ketika dia masuk kedalam untuk mengambil Gazelle yang akan ditawarkannya. Sekilas kulihat beberapa sepeda ukuran pendek di ruang dalam rumahnya. Yah, ini mah sama seperti yang dirumah, gumamku. Hatiku terpana pada sepeda yang dia tuntun dari ruang dalam. Sebuah Gazelle pria seri 999362, ukuran 24 dengan setang cungkring berpersneling Strumey Archer jeruji 36. Setelah kuamati, ya ampun..semuanya orisinil, bahkan kunci HOPMI kreek yang menempel adalah buatan 1954. Belakangan aku tahu dari Kuner jikalau sepeda itu juga buatan tahun 1954, di drum-persnelingnya juga terdapat kode AB 54. Berarti drum presneling dan kunci HOPMI ini orisinil dengan sepedanya. Tanpa menawar lagi aku setuju dengan 2,5 juta setelah cukup puas aku keliling desa Bandung dengan sepeda itu. Heran aku, mengapa mereka percaya begitu saja memperbolehkan aku menaiki keliling desa dan hilang dari pandangan mereka. Seandainya aku punya niat jahat, tentu bisa kubawa lari sepeda ini. Aku terharu dengan kepercayaan pak Sugiyono. Aku janji pada mereka seminggu kemudian akan kulunasi. Namun waktu seminggu ternyata sangat berat kulalui. Subuh tiga hari kemudian aku sampai di rumah pak Sugiyono lagi. Sengaja aku berangkat malam dengan bus Eka dari Surabaya. Tekadku akan mengambil sepeda itu tanpa menunggu seminggu. Ternyata aku nggak bisa menunggu. Setelah aku bayar, iseng-iseng aku tanya apakah sepeda ini dulu punya pak haji pemilik pondok pesantren desa Bener? Dia melongo heran kenapa aku tepat menebak asal sepeda itu. Dia bertanya-tanya lagi, aku cuman ketawa. Sebab tadi dia menertawaiku karena aku tidak bisa menunggu seminggu. Sekarang aku balas. Aku yang tertawa. Segera aku pamit karena dia akan berangkat dinas. Aku kayuh sepeda itu menuju ke losmen seberang bakso Kombi untuk menunggu kantor
ELTEHA buka. Aku tertidur nyenyak sekamar dengan Gazelle. Siangnya aku kembali ke Surabaya dengan Argo Wilis dari Kutoarjo.

Persaudaraan dengan pak Sugiyono tetap terjalin baik, sampai sekarang dia masih penasaran mengapa aku dapat menebak asal sepeda itu. Dua kali pak Suharto menolongku memilihkan sepeda semenjak Gazelle itu. Aku menjadi pemilik ketiga sepeda pak haji, kedua pak Sugiyono. Sepeda ini menjadi sepeda Gazelle yang
paling kusayangi. Aku percaya ini adalah sepeda jodohku. Tiga tahun kemudian, sepeda ini dinaiki saat
foto pre-wedding pernikahan kami. Isteriku sangat cinta sepeda ini.

Kami berdua dan teman-teman di klub Pakkar Rewwin menjulukinya Gazelle manten..

= Andyt  =

68 thoughts on “GAZELLE MANTEN

  1. Sip nak Andyt baik cerita maupun sepedanya uhuk….3x jadi kelingan gazelleku sing ilang bareng sapine bapakku (tenanan kiyi….) uhuk…3x

  2. Ajibbbb….memang kalau sudah milik mau diputer2 kemana tetep ketemu yo mas…aku cukup menikmatinya lewat pin pemberianmu yang bergambar si gazelle. Sayang aku belum sempet nyobain.

  3. Iya nak laexs, kemaren masih adem panas karena pingin sesuatu. Wah tampilannya tambah ya nak, tambah bagus ntuh ada ceritanya…uhuk…3x

  4. Cerita cerita dari onthelis yang laen segera di tampilin nak, tetapi jangan di tagih lo ciritaku. uhuk….3x (njagani kalo suatu ketika di tagih)

  5. cerita dari para onthelis…..semoga dapat memberikan gambaran segar untuk kita semua…..keinginan, pencarian, didapat, disayangi, dilindungi, sebuah perjuangan yg indah untuk dikenang….
    ====salam onthel, salam untuk semua====

  6. untuk no 22
    kayaknya mas Andyt mau tuh GAZELLE nya ditukar ama sapi

    tapi ama sapi…da Royal Sunbeam ukuran 28″ tahun 1903 kayak punya Sir Edward Elgar hehe 🙂

  7. itu bener-bener namanya jodoh mas, mau kabur kemana juga nanti pasti ketemu lagi.
    ceritanya mirip2 waktu saya ngejar locomotif amsterdam ukuran 24′ meskipun yg tersisa cuman batangan dan garpu depannya doang, yah karna hati udah kadung seneng walopun cuman batangan tapi pada akhirnya sepeda itu menjadi milik saya jg, meskipun sepeda itu sdh berpindah tangan 3 kali dan saya adalah org yg keempat memiliki sepeda itu, d tangan pemilik 3 sebelum saya, saya malah mendapat durian runtuh yaitu d beri rangka sepeda wanita yg ternyata merknya locomotief amsterdam jg. mulai saat itu saya percaya dlm berburu sepeda itu jodoh2an sekaligus jg tergantung keberuntungan kita.
    sepedanya gazellenya gagah mas andyt, mudah2an sepeda yg bersejarah dlm hidup mas itu bisa d turunkan k anak cucu.. Amin..

    salam kenal dr saya,
    qieqie, Onthel Club Sampit_Kalimantan Tengah

  8. mas Adi, no 25.
    Ada juga koleksi Gazelle yang saya dapat dari cerita yang TIDAK INDAH. Komplit ada yang cewek ada yang cowok pula, ya nggak kang T, hahaha

  9. untuk mas Qieqie_O.C.S (24)

    Salam kenal kembali. Silakan kirim cerita serta foto sepedamu agar ditayangkan dan jadi cerita bagi kita semua. Ditunggu ya mas.

  10. Kalau rekan-rekan setiap nyari sepeda ada ceritanya..asyik tuh..punya 10 sepeda 10 cerita..biarin kaya cerbung aja..ya mas andyt? Pa Kabar mas,sehat?

    Deni PSB,mana cerita dapetin simplex damesnya..ditunggu

  11. -26- bwahahahahah…..baru inget…kirain ngeledek G ane yg nggak beres2….sayangnya nggak jadi ya mas..kalau jadi ane kebagian tuh…dan G ane jadi bisa berdiri…..

  12. Cerita masalah hunting sepeda memang tidak ada habisnya, menarik, seru, susah payah tapi ujung- ujung ada kepuasan tersendiri. Apalagi yang didapat Gazelle ……… !

  13. pancen uenak tenan numpak gazelle kuwi, aku ngomong karo kanca2ku sing durung tau mancal gazelle yen iki lho speda sing mak nyus, kanca2ku podho nggumun ora nyongko speda sing ketoke guedhi abot, tibake uuentheng pancalane

  14. Membaca cerita ini teringat teman tetangga saya yang pernah kapusan gazzele perempuan.
    Tapi berakhir bahagia karena temannya teman tetangga saya kesemsem gazzele palsu tersebut dan membarternya dengan gerbox vw combi.

  15. Selamat berbahagia kepada Mas Andyt bersama keluarga dan gazellenya. Aku nunggu punya duit dan kapan itu gazellenya dijual ke aku. Kayaknya tangeh & lamun yaa …?

    Salam gowes onthelnya bersama keluarga.

    ma2n

  16. Wow………bagus tenan tuh sepedanya, kalau dah bosen boleh tuh di kasih sama aku, tinggal ganti harga saja, tapi jangan mahal2.
    Ok, bagus tenan.

  17. kan dah jelas di tulisannya ” GAZELLE MANTEN “masa istri mau di kasi orang lain, kalo bisa keloni di kamar. Jangan bosen mas

  18. Gazelle manten memang enak kalau dipakai ngontel
    abis kaki yang menggenjot pedal sampai lurus bisa
    menggenjotnya, karena saya di kampung ada 3 jenis
    gazelle yang sama tingginya sama empuknya kalau di
    naikin yaitu seri 42….,seri 54….,dan seri 98….ketiganya
    kalau dipandang dari depan sama mantennya makanya
    aku enggak bosen menaikinya. Gantian dong……..

  19. Fevri, Jogja
    Ruar biasa sepedanya dan kisahnya !!!
    Tolong alamat atau kontaknya pak Suharto di Kutoarjo saya mau dolan juga.Trims

  20. kpd para pecinta sepeda onthel aq mau minta tolong
    , aq mau tanya, di rmhku ada sepeda onthel dgn emblem gazelle, type heren , no serinya ada dibawah sadel sebelah kiri, yg ingin aq tanyakan apakah sepeda gazelle no serinya ada dibawah sadel sebelah kiri ?,,,trima kasih sebelumya….

  21. Bukan masalah sepedenya mas, tapi perjuangan anda yang membuat sepeda itu negitu berharga.lagian aku juga jadi pengen besok kalo menikah ke KUA naik sepede aja biar nyleneh. bravo old bike

  22. sepedanya keren!!!
    sy jg punya 1 gazelle warisan mbah uyut, klo gx salah seri 7…
    ukurannya luar biasa tinggi, kalo mau berhenti kudu nyari pijakan dlu (tp bkn sy nya yg pendek loh hehehe….)

  23. Kalo blh tau ada yg punya spd gazelle yg mau dijual???? Sy tertarik untuk membelinya… Kasi dunk infonya… Pengennya seri 11 atau sebelumnya…

  24. Diyah kalau gazelle yang dicari yang laki atau yang perempuan
    kebetulan saya ada 2 gazelle seri 11 laki-laki yang mau dilepas
    kalau yang peremuan itu peninggalan kakek saya,kalau ada minat bisa informasi ke Komang Arya.BALI. Hp.08123807806.

  25. SELAMAT PAGI MAS…

    BOLEH TAHU NOMER TELPONNYA P. SUHARTO MAS…?
    KEBETULAN SAYA JUGA LAGI NYARI SEPEDA, SAYA DR PURWOREJO.

    TERIMA KASIH,
    DJOKO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s